top of page
  • Gambar penulisTeduh

Apa Benar Kesehatan Mental Karyawan Bisa Memengaruhi Kinerja Perusahaan?

A: “Bos, maaf banget nih, aku belum memenuhi target pekerjaan karena kondisi mentalku lagi kurang baik”


#TemanTeduh pernah gak menemukan, mendengar, atau bahkan mengalami sendiri pengalaman A dalam percakapan di atas? Kira-kira apa jawaban dari bos buat si A?


Bos: “No, it’s okay, take your time” atau “Saya gak mau tahu ya, yang penting pekerjaanmu harus selesai sekarang.”


Nah, jawaban mana yang pernah #TemanTeduh dengar?




Percakapan di atas menyiratkan bahwa kesehatan mental karyawan itu erat banget hubungannya dengan produktivitas pekerjaan. Setuju gak nih #TemanTeduh?

Kita patut bersyukur karena saat ini kesadaran akan kesehatan mental sudah sangat baik jika dibandingkan dengan beberapa waktu ke belakang. Mayoritas perusahaan sudah memandang bahwa kesehatan mental kini sudah dianggap sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Akan tetapi, dalam kaidah mayoritas, pasti ada minoritas ya. Mungkin masih ada sebagian kecil perusahaan yang belum memiliki pandangan yang sama. Maka dari itu, yuk kita buka pandangan kita untuk melihat fakta-fakta bahwa kesehatan mental itu berpengaruh banget sama produktivitas karyawan!



Hubungan Kesehatan Mental dengan Produktivitas Perusahaan


Menurut American Psychiatric Association (APA), karyawan yang berada dalam kondisi depresi yang tidak terselesaikan akan mengurangi produktivitas sebesar 35% dan hal ini berkontribusi pada hilangnya pendapatan kurang lebih $210.5 billion US per-tahunnya (McLean, n.d.). Bahkan, menurut WHO, depresi dan kecemasan secara global dapat memengaruhi penurunan ekonomi global sampai $1 triliun US (WHO, n.d.) karena berkurangnya produktivitas loh!


Menurut penelitian Rajgopal (2010), masalah kesehatan mental karyawan memiliki pengaruh pada performa bisnis secara langsung melalui peningkatan absen (ketidakhadiran karyawan), yang tentunya berpengaruh banget pada produktivitas dan berkurangnya profit yang akan didapatkan perusahaan.


Ketika perusahaan kurang memperhatikan kesehatan mental karyawan, maka performa karyawan akan sangat terganggu dan menjadi lebih buruk. Hal ini akan berdampak pada penurunan kinerja perusahaan yang sangat drastis. Saat karyawan tidak mendapatkan dukungan yang efektif untuk kesehatan mental mereka, yang terjadi adalah mereka akan kehilangan kepercayaan dan identitas diri dalam pekerjaan sehingga kapasitas mereka dalam bekerja tidak dikeluarkan secara optimal. Hal ini sangat berpengaruh pada kepuasan mereka dalam bekerja, yang mana hal tersebut penting banget untuk keberlanjutan perusahaan. Maka dari itu, perusahaan perlu menaruh perhatian khusus untuk mendukung kesehatan mental karyawan.


Bagaimana Cara Mendukung Kesehatan Mental Karyawan?


Berinvestasi dalam kesehatan mental karyawan secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan keuntungan bagi bisnis perusahaan. Apabila kesehatan mental karyawan terjaga, maka tingkat produktivitas akan meningkat, tingkat absensi akan berkurang, dan tingkat kepuasan kerja akan meningkat. Bahkan, perusahaan juga dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk pelayanan kesehatan karyawan, karena mental yang sehat akan mendukung fisik yang sehat. Lantas, apa saja ya upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan mental karyawan?


1) Menormalisasi Pembicaraan Mengenai Kesehatan Mental

Mendorong pemimpin yang lebih terbuka untuk mengizinkan karyawan menceritakan pengalaman personal mereka terkait kesehatan mental. Pemimpin perusahaan memiliki kekuatan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental dan membuat lingkungan kerja yang bebas stigma sehingga karyawan dapat menceritakan kesehatan mental mereka dengan lebih aman dan nyaman. Harvard Business Review (2021) (Greenwood & Anas, 2021) melaporkan, karyawan yang merasa perusahaannya peduli dengan kesehatan mental mereka memiliki produktivitas yang lebih baik dan memiliki tingkat absensi yang rendah. Bahkan mereka jarang mengalami masalah kesehatan mental yang serius. Jadi, yuk mulai ciptakan lingkungan kerja yang suportif dan membuat mereka nyaman untuk mendiskusikan kesehatan mental.


2) Memprioritaskan Healthy Work Life Balance

Lamanya waktu kerja tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas. Studi di Stanford University membuktikan kalau karyawan bekerja lebih dari 50 jam seminggu, justru kualitas hasil pekerjaannya akan berkurang loh! Nah, penting banget untuk perusahaan untuk dapat membuat pembatas (boundaries) antara waktu kerja dan kehidupan karyawan di rumah untuk mendukung work-life balance. Misalnya, dengan menentukan ekspektasi kerja yang jelas melalui jam kerja yang masuk akal, cuti berbayar, mengizinkan kerja dari mana saja (remote working), dan memberikan fleksibilitas dalam jadwal kerja. Beberapa hal tersebut dapat meningkatkan work-life balance, kesehatan mental, dan produktivitas kerja secara keseluruhan


3) Membantu Karyawan Mempelajari Bagaimana Cara Mengelola Stres

Stres yang disebabkan oleh pekerjaan dapat menjadi masalah kesehatan mental dan fisik yang lebih besar. Perusahaan dapat mengedukasi karyawan untuk mengenali bagaimana ciri-ciri seseorang sedang mengalami stres atau burnout. Kondisi stres karena pekerjaan bisa membuat produktivitas sangat menurun sehingga dapat menyebabkan resiko yang besar bagi kinerja bisnis perusahaan.


4) Menerapkan Program Pelatihan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Cara terbaik untuk mendukung kesejahteraan mental karyawan adalah dengan menawarkan program kesehatan mental karyawan yang efektif. Program ini dapat mengedukasi karyawan mengenai bagaimana cara mengelola kesehatan mental agar tetap produktif dalam bekerja.



Foto: Dokumentasi Teduh


Salah satu platform yang dapat menyediakan program ini adalah Teduh. Dalam program ini, Teduh akan membuat program yang sesuai dengan kebutuhan karyawan dan dapat menjadi solusi masalah kesehatan mental di perusahaan agar menjadi lebih produktif. Di antaranya dengan memberikan konseling langsung dengan psikolog atau konselor, pelatihan untuk mengembangkan berbagai keterampilan, meditasi, serta berbagai tools dan resource yang dibutuhkan untuk mengelola kesehatan mental karyawan.


Di samping untuk perusahaan, Teduh juga menyediakan fitur self-help, panduan meditasi, dan trek suara alam di aplikasi Teduh untuk mengelola kesehatan mental kita sehari-hari. Bahkan, kita juga bisa langsung konseling dengan psikolog atau konselor di aplikasi Teduh. Kalau belum download aplikasinya, bisa download di link ini ya!


Nah, itu dia sedikit pembahasan mengenai hubungan kesehatan mental dengan kinerja perusahaan. Kalau kamu punya cerita tentang gimana cara perusahaan kamu mengelola kesehatan mental karyawan, boleh banget lho dishare di blog teduh. Caranya gampang banget! Scroll terus sampai ke bagian bawah halaman, masukkan nama, email, dan ceritamu. Jika ceritamu terpilih, tim Teduh akan menghubungi kamu dan mempublikasikan artikelmu di blog Teduh!


Psychology content writer: Aviva Lutfiana


Sumber:

  1. Greenwood, K., & Anas, J. (2021, October 4). It’s a New Era for Mental Health at Work. Retrieved from https://hbr.org/2021/10/its-a-new-era-for-mental-health-at-work

  2. McLean. (n.d.). What Employers Need To Know About Mental Health in the Workplace. Retrieved from: https://www.mcleanhospital.org/essential/what-employers-need-know-about-mental-health-workplace

  3. Pathways. (n.d.) How HR Can Improve Mental Health and Productivity in the Workplace. Retrieved from: https://www.pathways.com/pathways-at-work/blog/workplace-mental-health-and-employee-productivity

  4. Rajgopal, T. (2010). Mental well-being at the workplace. Indian Journal of Occupational and Environmental Medicine, 14(3), 63. https://doi.org/10.4103/0019-5278.75691

  5. WHO. (n.d.). Mental Health and Substance Use. Retrieved from: https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/promotion-prevention/mental-health-in-the-workplace

43 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Commenti


bottom of page