top of page
  • Gambar penulisTeduh

Lebih Sadar agar Bisa Mencegah: Self-Harm Awareness Month



Mawar baru saja putus dengan pacar pertamanya, Rio. Sedih, kecewa, kehilangan… Semua jadi satu dan campur aduk dirasakan olehnya. Bagi Mawar, Rio adalah tempat bersandar dan cerita satu-satunya, karena di sekolah ia tidak memiliki teman dekat. Saking sedihnya dan merasa tidak punya siapa-siapa setelah putus, iapun beberapa kali membenturkan kepala ke dinding saat menangis.


Mawar Bukanlah Satu-satunya

Bukan cuma Mawar, sebagian orang melakukan perilaku menyakiti diri sendiri ketika sedang mengalami emosi intens atau situasi tidak menyenangkan. Perilaku menyakiti diri sendiri ini dikenal dengan istilah self-harm. Self-harm dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Menyayat atau melukai diri dengan benda tajam

  • Membakar kulit

  • Memukul atau membenturkan diri ke permukaan keras

  • Mengonsumsi zat-zat beracun

  • Menggaruk sampai berdarah

  • Menarik rambut dengan keras hingga berdarah

  • Mengelupas kulit hingga berdarah

  • Olahraga terlalu keras hingga ingin pingsan atau dehidradi

  • Secara sengaja tidak makan hingga merusak kesehatan

Sebanyak 39,3% atau empat dari sepuluh orang di Indonesia melaporkan pernah melakukan self-harm dan memiliki pikiran bunuh diri selama pandemi COVID-19. Meski umumnya ditemukan pada populasi berusia muda (remaja dan dewasa muda), self-harm bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk mereka yang lanjut usia.


Bulan Maret ditentukan sebagai Self-Harm Awareness Month di ranah internasional. Lewat artikel ini, Teduh mengajakmu untuk lebih mengenal soal self-harm sehingga bisa lebih baik mencegah, mengelola, dan mendampingi orang terdekat jika diperlukan. Simak terus ya!


Alasan Seseorang Melakukan Self-Harm

Setiap orang punya alasan berbeda untuk melakukan self-harm. Beberapa alasan yang umumnya mendorong seseorang hingga melakukan self-harm diantaranya:

  • Permasalahan di keluarga

  • Pertengkaran dengan lingkungan sosial

  • Tuntutan di sekolah

  • Perundungan (bullying)

  • Masalah depresi atau kecemasan

  • Kepercayaan diri yang rendah

  • Perubahan besar di lingkungan, seperti pindah sekolah atau rumah

  • Konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang

Dengan adanya berbagai alasan ini, self-harm dilihat oleh sebagian orang yang melakukannya sebagai cara koping atau bertahan ketika berhadapan dengan situasi tidak menyenangkan tersebut. Nock & Prinstein (2004) membagi usaha koping ini ke dalam empat kelompok yang disebut fungsi self-harm, yaitu:

  • Mengurangi perasaan atau kondisi internal yang tidak diharapkan. Misalnya mengurangi perasaan sedih, marah, tidak berdaya, dll.

  • Meningkatkan perasaan atau kondisi internal yang diinginkan. Misalnya meningkatkan rasa lega atau kuat (karena bisa menahan sakit).

  • Menghindari konsekuensi sosial yang tidak diharapkan. Misalnya menghindari tugas sosial, bertemu dengan orang lain, dll.

  • Mendapatkan reaksi yang diinginkan dari lingkungan sosial. Misalnya mendapat bantuan dan perhatian dari orang lain.

Meski alasan dan fungsi self-harm berbeda untuk masing-masing orang, satu hal yang berlaku sama: mereka semua sedang dalam kondisi tidak nyaman dan butuh dukungan kita.


Tanda-Tanda Self-Harm

Beberapa tanda self-harm bisa terlihat jelas; seperti bekas sayatan di tubuh atau memar-memar tanpa alasan jelas. Namun, ada juga tanda-tanda self-harm yang terselubung dan membutuhkan kepekaan dari kita untuk bisa menyadarinya. Jika kamu khawatir seseorang di dekatmu melakukan self-harm, perhatikan apakah mereka memiliki tanda-tanda berikut:

  • Adanya luka-luka di tubuhnya; bekas sayatan, memar-memar, bekas terbakar, rambut menipis yang tidak rata (seperti bekas dicabuti)

  • Menggunakan baju tertutup (bukan karena alasan agama) setiap saat bahkan saat cuaca panas

  • Terus-menerus merendahkan diri dan berkata buruk ke diri sendiri: Misalnya berkata “aku bodoh sekali”, “aku nggak pantes”, “payah banget sih aku”

  • Mengatakan atau menunjukkan keinginan untuk menghukum diri sendiri

  • Menarik diri dari lingkungan sekitar atau sangat tertutup

  • Perubahan pola makan atau tidur yang signifikan

  • Suasana hati yang cenderung depresif atau cemas

  • Pernah mengatakan ingin “udahan aja” atau berhenti hidup

  • Terlihat kurang percaya diri, seperti selalu menyalahkan diri atau merasa tidak mampu

Membantu Mereka yang Melakukan Self-Harm

Jika kamu mendapati orang di dekatmu melakukan self-harm, beberapa langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah:

  • Tetap tenang. Berikan respon sewajarnya dan hindari untuk memberikan reaksi menghakimi atau mengasihani.

  • Obati luka fisik yang dimiliki terlebih dulu. Perhatikan apakah luka sudah dibersihkan dengan baik, diobati, dan lihat tanda-tanda munculnya infeksi. Jika pertolongan pertama belum cukup, segera obati luka ke tenaga profesional.

  • Dengarkan mereka baik-baik tanpa memberi penilaian. Cari tahu kondisi mereka saat ini dan apa yang kira-kira mereka butuhkan.

Ketika berbicara dengan mereka, usahakan berada di tempat yang sepi dan aman. Ini supaya mereka merasa aman dan nyaman saat menceritakan perasaan dan pikiran mereka. Tidak perlu memaksa mereka bercerita jika memang belum siap. Alih-alih, kita bisa berkata “Aku selalu ada kalau kamu sudah siap mendengarkan” untuk menunjukkan kepedulian kita. Jangan lupa juga untuk memvalidasi dan afirmasi semua yang mereka rasakan. Tidak ada perasaan yang salah, semua perasaan mereka wajar dan valid untuk dirasakan.


Kapan Harus Meminta Bantuan Profesional

Ketika kita melihat bahwa perilaku self-harm mereka sudah mulai membahayakan nyawa, membuat mereka sulit beradaptasi dan memenuhi tuntutan sehari-hari, serta mereka masih sulit terbuka dengan orang-orang sekitarnya, sudah saatnya mempertimbangkan untuk berkonsultasi pada tenaga profesional.


Self-harm adalah kondisi yang mungkin sulit dipahami oleh sebagian besar orang. Meski demikian, self-harm adalah gejala dari kondisi kesehatan mental yang bisa ditangani. Tenaga profesional seperti psikolog mampu membantu individu memahami alasan dari perilaku self-harm dan bagaimana caranya untuk merasa lebih baik tanpa perlu melukai diri sendiri.


Kamu selalu bisa menjadwalkan sesi konseling bersama psikolog dan konselor dari aplikasi Teduh. Dengan harga terjangkau, kamu sudah bisa mendapatkan akses layanan kesehatan mental yang terpercaya dan praktis!


Tunggu apa lagi? Teman Teduh bisa segera mengunduh aplikasi Teduh di play store ataupun app store ya!


Penulis: Fariza Nur Shabrina, M.Psi., Psikolog


Sumber:

  1. Hong, Z., Zhang, H., Xu, L., Zhou, J., Kong, F., Li, J., ... & Gao, Z. (2021). Negative life events and self-harm among the elderly: Result from a survey of 7070 people aged≥ 60 in China. Psychiatry research, 298, 113727.

  2. How to help someone who self-harms. (n.d.). HSE. https://www2.hse.ie/mental-health/helping-someone-else/how-to-help-someone-who-self-harms/

  3. Liem, A., Prawira, B., Magdalena, S., Siandita, M. J., & Hudiyana, J. (2022). Predicting self-harm and suicide ideation during the COVID-19 pandemic in Indonesia: a nationwide survey report. BMC psychiatry, 22(1), 304.

  4. Nock, M. K., & Prinstein, M. J. (2004). A functional approach to the assessment of self-mutilative behavior. Journal of consulting and clinical psychology, 72(5), 885.

  5. What is self-harm? (n.d.). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12201-self-harm

48 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Commentaires


bottom of page