top of page
  • Gambar penulisTeduh

Kenapa Kita Enggak Boleh Self Diagnose?

Diperbarui: 11 Okt 2022


Credit: Kompastv



Sebagai anak psikologi nih, aku sering banget ketemu sama temen-temen yang suka randomly nyeletuk kalo dia ngerasa dia mengidap suatu penyakit atau gangguan tertentu. Entah dari mahasiswa psikologi sendiri, atau bahkan dari luar psikologi. Sering banget mereka ngerasain suatu gejala tertentu, terus jadinya browsing deh di internet, dan setelah nemu di internet, mereka langsung ngerasa kalau hal itu bener-bener mereka alami, padahal belum ada diagnosa pasti dari profesional.


Nah, hal itu dikenal dengan istilah self diagnose. Yap, self diagnose adalah fenomena di mana seseorang mendiagnosa dirinya mengidap atau mengalami suatu penyakit atau gangguan berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang telah ia miliki, atau bahkan berdasarkan apa yang telah ia peroleh melalui internet yang memang berhubungan dengan apa yang sedang dia keluhkan. Hmm, emangnya boleh enggak sih hal itu dilakukan? Tentu saja enggak dong, yang berhak mendiagnosa seseorang memiliki penyakit atau gangguan tertentu itu hanya profesional yang berlisensi.


Wah, berarti bahaya dong self diagnose itu? Iya, jelas banget bahayanya, coba kita baca sama-sama ya bahaya apa aja yang ditimbulkan dari self diagnose itu.


Kekhawatiran yang tidak perlu

Mendiagnosa diri sendiri akan menimbulkan banyak kekhawatiran dari gejala yang sudah ada sebelumnya. Justru hal itu akan memicu stres dan kecemasan yang memperparah gejala yang sudah ada, hal itu akan berpengaruh secara fisik dan juga secara mental karena tubuh terus-menerus melepaskan hormon stres yang berdampak negatif. Akan lebih baik kalau meminta bantuan dari dokter untuk benar-benar memeriksa dan mengecek secara menyeluruh apa yang sebenarnya sedang terjadi di tubuh kita.

Informasi yang bertentangan

Banyak sekali informasi yang saling bertentangan atau bertolak belakang beredar di internet. Hal ini dapat mempersulit orang-orang dalam memahami mana informasi yang benar dan salah terkait dengan kesehatan dirinya. Seringkali justru ketika ada informasi yang bertentangan, seseorang cenderung akan memilih informasi yang tampaknya paling sesuai dan melihat cara pengobatan mana yang paling mudah dilakukan.


Gejala dapat dikaitkan dengan beberapa kondisi yang mendasarinya

Banyak sekali gejala mendasar dari banyak penyakit atau gangguan yang memang memiliki kemiripan, itulah kenapa terdapat diagnosa pembeda atau diagnosa pembanding untuk benar-benar menetapkan suatu penyakit atau gangguan adalah benar, dan hal ini tentu saja merupakan kapasitas seorang profesional dan bukannya awam.


Perawatan yang tidak tepat

Bisa saja suatu diagnosa tidak tepat dan akhirnya perawatan yang diberikan akan tidak maksimal atau bahkan tidak sesuai dan berdampak pada memburuknya keadaan seseorang. Akan lebih baik jika dari awal memang sudah dibawa ke profesional agar diagnosa dapat ditegakkan dengan pasti oleh profesional dan mendapatkan perawatan yang maksimal dan tepat.


Melemahkan peran profesional

Mendiagnosa diri sendiri akan melemahkan peranan dokter, psikolog atau psikiater sebagai seorang profesional yang sebenarnya lebih berkapasitas. Kita juga memerlukan cermin karena terkadang kita melewatkan sesuatu, di situlah peranan profesional, untuk melihat dengan lebih jeli apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita tanpa ada yang terlewat. Tidak jarang individu mengalami lebih dari satu gangguan namun hal itu tidak disadari, itu yang disebut dengan komorbiditas, dan inilah yang biasanya akan lebih tepat jika diserahkan pada tangan profesional.


Tuh kan, bahaya banget loh self diagnose itu, kalau kamu atau orang di sekitarmu pernah melakukan itu, sebisa mungkin paparkan informasi bahwa self diagnose itu berbahaya ya! Kalau kalian merasa ada yang tidak nyaman pada diri kalian, kalian bisa mengikuti course yang telah disediakan oleh Teduh. Yuk download aplikasi Teduh di sini!


Sumber:

1. Ghauri, M. (2022, May 26). 5 Reasons Why You Shouldn’t Self-Diagnose. Spine and Pain Clinics of North America. Retrieved August 28, 2022, from https://www.sapnamed.com/blog/5-reasons-why-you-shouldn-t-self-diagnose/

2. Widuri, T. S. (2021, November 8). Bahaya Self-Diagnosis, Asal Menebak Penyakit dari Internet. Satu Persen. Retrieved August 28, 2022, from https://satupersen.net/blog/bahaya-self-diagnosis


12 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page