top of page
  • Gambar penulisTeduh

Gimana Ya Cara Mengubah Stress Jadi Produktif?

Pychology Content Writer: Aviva Lutfiana




Pernah enggak sih kalian dapet tugas banyak, tapi malah excited? Di sisi lain, pernah juga dapet tantangan yang malah bikin kita merasa down atau gak berdaya? Tugas yang banyak, perubahan, atau tantangan yang kita alami itu disebut sebagai sumber stress (stressor). Tapi kok bisa ya stress menghasilkan efek yang berbeda pada diri kita? Yuk kita simak pembahasan berikut ini!


Apa itu stress?

Pertama-tama kita kenali dulu apa itu stress. Stress adalah reaksi normal tubuh ketika terjadi adanya perubahan atau tantangan yang kita hadapi. Reaksi ini bisa kita rasakan secara fisik, emosi, dan pikiran kita. Tubuh kita memang dirancang untuk mengalami stress dan bereaksi terhadapnya. Jadi kalau kita merasakan stress, itu normal kok!


Respon tubuh kita terhadap stress itu bisa membantu kita menyesuaikan diri ke situasi yang baru. Bahkan, stress bisa berdampak positif loh! Stress bisa membuat kita lebih terbangun (awake), lebih termotivasi, dan siap menghadapi tantangan di depan kita. Sebaliknya, stress juga bisa berdampak negatif sama diri kita, efeknya membuat kita merasa tidak produktif, mudah putus asa, down, dan akhirnya merasa tidak berdaya.


Nah, kenapa bisa beda gini ya efek stress sama diri kita?


Seperti yang dijelaskan tadi, stress itu adalah reaksi tubuh kita. Kita memang tidak bisa mengubah stressor yang terjadi diluar diri kita, misalnya tugas yang diberikan pada kita, perubahan di lingkungan, tantangan tak terduga. Hal-hal itu emang gak bisa kita kontrol. Tapi kita bisa mengelola bagaimana reaksi kita terhadap semua stressor tersebut!


Kata Hans Selye, “It’s not stress that kills us, it is our reaction to it”


Hans Selye juga membagi dua kategori stress berdasarkan reaksi yang kita rasakan pada tubuh kita, yaitu eustress dan distress.


Apa itu eustress?

Eustress adalah reaksi stress yang memberikan energi dan memotivasi kita untuk membuat perubahan. Hal ini memberikan kita gambaran yang positif dan membuat kita merasa mampu untuk mengatasi masalah yang sedang kita alami. Coba deh, kita inget-inget sejenak, ada enggak pengalaman kita mengalami eustress ini? Kira-kira apa yang membuat kita mengalaminya? Apakah karena kita sudah mempraktikkan mindfulness? Karena sering journaling? Atau karena apa nih? Beberapa kegiatan yang dapat membantu kita memaknai sebuah stressor menjadi eustress diantaranya: berolahraga, bersosialisasi, mindfulness, meditasi, berlibur, mendengarkan musik, mencapai suatu tujuan kecil, pergi ke SPA, dan sebagainya.


Apa itu distress?

Distress adalah stress yang memiliki efek negatif pada diri kita. Kebalikan dari eustress, efek dari distress ini di antaranya merasa kelelahan, kewalahan (overwhelmed), merasa tidak mampu, dan tidak berdaya. Nah, coba deh dipikirin sejenak, pernah enggak kita mengalami ini? Gimana kita menerima stressor itu? Apakah kita menganggapnya sebagai hal yang mengancam, atau sebagai tantangan yang akan kita menangkan?


Teman-teman, bagaimana kita memaknai stres itu sangat berpengaruh loh dengan bagaimana reaksi stres pada tubuh kita! Proses pemaknaan ini disebut dengan cognitive reappraisal!


Cognitive reappraisal!

Cognitive reappraisal adalah proses penilaian kembali (evaluasi) dalam pikiran kita, untuk menentukan apakah sebuah stressor kita maknai sebagai hal netral, positif, atau negatif loh!


Sebuah stressor akan kita maknai secara netral ketika kita menganggap stressor tersebut tidak akan berdampak apa-apa pada diri kita, jadi kita cenderung melupakannya. Stressor bisa kita maknai sebagai hal yang positif jika kita menganggap stressor tersebut sebagai sebuah challenge atau tantangan yang harus kita taklukan yang dengannya kita bisa jadi naik kelas! Sebaliknya, sebuah stressor akan kita maknai dengan negatif apabila kita menganggap stressor tersebut sebagai sebuah ancaman (threat) yang akan membahayakan kita di masa depan. Nah penilaian ini akan berbeda loh di setiap orang. Misalnya si A menganggap sebuah stressor sebagai sebuah challenge, tapi si B menganggap stressor yang sama sebagai hal yang akan mengancamnya (threat).


So, kalau ada stressor, kita coba nilai kembali ya, stressor tersebut worth it gak sih kalo kita jadikan beban pikiran yang negatif? atau sebenarnya stressor tersebut sebenarnya netral aja, gak akan berpengaruh sama kita jadi enggak usah kita pikirin.


Nah, apakah sekarang teman-teman sedang mengalami stress? Mau coba mengatasi stress dengan lebih baik? Yuk kita coba meditasi stress bersama Teduh. Download aplikasi Teduh disini!


Baca lebih lanjut:

  1. Ross, D. (n.d.). Distress vs. Eustress. Retrieved form: https://www.drake.edu/media/departmentsoffices/recreationservices/Distress%20vs%20eustress%20blog.pdf

  2. Tohmiya, N., Tadaka, E., Arimoto, A. (2018). Cross-sectional study of cognitive stress appraisal and related factors among workers in metropolitan areas of Japan. BMJ Open 2018;8:e019404. doi: 10.1136/bmjopen-2017-019404. Retrieved from: https://bmjopen.bmj.com/content/bmjopen/8/6/e019404.full.pdf



14 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page