top of page
  • Gambar penulisTeduh

Gimana Cara Mengelola Emosi, Ya?



Pernah enggak sih kamu berada di kondisi yang super happy! Bahagia banget, karena baru dapat berita baik, dapat penghargaan, dapat hadiah, atau karena hal yang bikin bahagia lainnya. Bahkan, kita sampai speechless dan bikin mood kita seneng terus seharian. Di sisi lain, pernah enggak kamu berada di kondisi merasa bingung sama apa yang kamu rasain? Rasanya tuh campur aduk dan akhirnya jadi bingung juga gimana harus menyikapinya dan nentuin apa yang harus dilakukan. Aku yakin, kita pasti pernah mengalami kondisi-kondisi yang mirip seperti ini ya.


Nah, #TemanTeduh, ini dia yang dinamakan emosi. Emosi mengambil bagian besar dari hidup kita sehari-hari. Pernah enggak, kamu mendengar kata-kata “Jangan pake emosi dong!” Nah, emosi di sini tuh maksudnya apakah sama dengan marah?


Emosi bukan hanya tentang marah ya, teman-teman. Cuman emang di Indonesia, kata ‘emosi’ sendiri suka diidentikkan dengan perasaan marah.


Sebenarnya, pengertian dari emosi sendiri tuh apa sih?


Apa itu Emosi?

Emosi adalah reaksi yang kita alami sebagai respon terhadap peristiwa atau situasi. Jenis emosi yang kita alami ditentukan sama keadaan yang memicu emosi tersebut. Misalnya, kita merasa gembira atau senang saat menerima kabar baik dan merasa takut saat merasa terancam. Emosi punya pengaruh yang kuat sama kehidupan kita sehari-hari dan setiap keputusan yang kita ambil mungkin akan dipengaruhi sama emosi yang lagi kita rasakan (Cherry, 2022).


Memahami emosi dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih mudah dan stabil. Ada emosi yang mudah dikelola dan ada emosi yang rasanya susah banget buat kita kelola. Bergumul dengan emosi adalah hal yang normal dan setiap orang memiliki pengalaman ini. Cuman, kalau kita kesulitan mengelola emosi dalam jangka waktu yang lama, hal itu bisa menyebabkan kesehatan mental kita terganggu (Cherry, 2022).


Apa Saja Jenis Emosi?

Pada tahun 1970-an, psikolog Paul Eckman mengidentifikasi enam emosi dasar yang menurutnya dialami secara universal di semua budaya manusia. Emosi yang dia identifikasi adalah bahagia, sedih, jijik, takut, terkejut, dan marah. Dia kemudian memperluas daftar emosi dasarnya untuk memasukkan hal-hal seperti kebanggaan, rasa malu, dan kegembiraan. Seiring berjalannya waktu, penelitian terus berkembang. Robert Pluthick menemukan bahwa emosi itu sangat kompleks bisa berupa kombinasi emosi satu dengan yang lainnya. Studi tahun 2017 menunjukkan bahwa emosi itu lebih dari sekadar emosi dasar yang kita yakini sebelumnya. Dari studi ini, peneliti menemukan kalau ada 27 kategori emosi loh, seperti yang ditunjukkan oleh roda emosi (emotion wheel), berikut ini:




Kita enggak perlu menghafalkan sekian banyak jenis emosi ini ya, #TemanTeduh! Hal yang harus kita ketahui adalah: penting bagi kita untuk mengenali emosi kita, karena setiap jenis emosi ini punya tugas untuk memberikan pesan yang berbeda. Misalnya, ketika kita merasa takut, kita akan jadi lebih berhati-hati, karena ini pertanda adanya sesuatu yang berbahaya di sekitar kita. Ketika kita merasa cemas, jadi pertanda bahwa kita harus melakukan persiapan, karena rasa cemas bisa menandakan adanya sesuatu yang belum siap kita hadapi. Ketika kita merasa senang, artinya ada suatu hal berharga yang patut kita syukuri.


Seperti yang kita tahu ya teman-teman, emosi itu enggak selalu positif, tapi ada juga yang negatif. Saat merasakan emosi positif tentunya hal itu memberikan efek yang menyenangkan bagi kita, begitupun sebaliknya, kalau merasakan emosi negatif rasanya tidak menyenangkan. Sayangnya, kita tidak bisa memilih, maunya merasakan emosi positif terus dan menolak untuk merasakan emosi negatif. Emosi itu datang ibarat tamu, kita harus menerimanya dahulu apa adanya, meskipun itu emosi negatif. Kemudian kita perlu belajar untuk mengelolanya agar kesehatan mental kita tetap terjaga.


Gimana Cara Mengelola Emosi?

Penting bagi kita untuk mengelola emosi, karena emosi itu bisa memengaruhi pemikiran, perilaku, dan kondisi tubuh kita. Berikut ini langkah-langkah untuk mengelola emosi:


1) Identifikasi emosi apa yang sedang kita rasakan

Ambil waktu untuk berjeda dan menarik napas panjang sampai kita merasa relaks. Kemudian, kita tanyakan beberapa hal ini:

  • Apa yang saya rasakan saat ini?

  • Apa yang terjadi hingga membuatku merasa seperti ini?

  • Apakah situasi yang kita hadapi tersebut memiliki penjelasan yang masuk akal?

  • Apa yang ingin saya lakukan tentang perasaan ini?

  • Apakah ada cara yang lebih baik untuk mengatasi perasaan ini?

2) Terima semua emosi yang sedang kita rasakan, apa adanya

Menerima emosi saat datang membantu kita merasa lebih nyaman. Meningkatkan kenyamanan kita saat sedang mengalami emosi yang intens memungkinkan kita dapat merasakannya sepenuhnya dan mendapatkan kepuasan hidup yang lebih besar. Bahkan, kita bisa menganggap bahwa emosi yang kita rasakan adalah hal yang bermanfaat dapat menghasilkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.


3) Buatlah jurnal mood

Menuliskan apa yang sedang kita rasakan dan respons yang dipicunya dapat membantu kita mengungkap pola emosi yang mengganggu. Selain itu, kita akan merenungkannya lebih dalam sehingga dapat membantu kita mengenali ketika keadaan yang sedang kita hadapi. Dengan begitu, kita dapat mengidentifikasi pemicu spesifik yang memungkinkan untuk menemukan cara mengelolanya secara lebih produktif.


4) Mengekspresikan diri atau menyalurkan energi

Beberapa emosi memiliki energi yang sangat kuat dan membuat tubuh kita merasa tegang. Kita boleh kok menyalurkan energi tersebut dengan cara yang sehat. Misalnya, ketika kita sedang mengalami emosi yang intens, kita boleh kok menangis, bercerita dengan orang terdekat tentang apa yang sedang kita rasakan, mencoret-coret kertas, berolahraga, atau bahkan tidak apa menyalurkan teriakan kita ke bantal kita agar tidak terdengar. Beberapa hal ini mungkin dapat menurunkan ketegangan pada badan kita akibat emosi yang sedang kita rasakan. Namun, yang penting adalah kita perlu memperhatikan lingkungan dan situasi juga, kapan waktu yang terbaik bagi kita.


5) Berikan jarak atau ruang bagi diri kita

Menjauh dari pemicu emosi yang intens dapat membantu kita untuk berpikir dengan jernih dan masuk akal. Menjauh disini mungkin bersifat fisik, seperti meninggalkan situasi yang menjengkelkan. Kita juga dapat membuat jarak mental dengan mengalihkan perhatian kita. Misalnya dengan mencari distraksi sementara, dengan berjalan keluar kantor atau rumah, bermain dengan hewan peliharaan, menonton video yang lucu, dan sebagainya.


6) Coba lakukan meditasi

Meditasi dapat membantu kita meningkatkan kesadaran kita akan semua perasaan dan pengalaman. Saat kita bermeditasi, kita mengajari diri sendiri untuk duduk dengan perasaan itu, memperhatikannya tanpa menghakimi diri sendiri atau berusaha mengubahnya atau menghilangkannya. Seperti disebutkan di atas, belajar menerima semua emosi kita dapat membuat pengelolaan emosi menjadi lebih mudah. Meditasi membantu kita meningkatkan keterampilan penerimaan tersebut dan membuat kita menjadi lebih rileks.


7) Lakukan konseling dengan profesional

Jika kita tidak mampu mengelola emosi dalam jangka panjang atau terus-menerus, tentunya hal ini akan mengganggu keseharian hidup kita. Perubahan suasana hati dan emosi yang intens dapat memicu pikiran negatif atau tidak diinginkan yang pada akhirnya memicu perasaan putus asa. Bahkan, jika sampai timbul keinginan untuk melukai diri sendiri. Mungkin inilah saatnya untuk mencari dukungan profesional. Seorang psikolog atau konselor akan memberikan dukungan dan membantu kita untuk:

  • Mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap emosi yang tidak teratur.

  • Mengatasi perubahan suasana hati yang parah.

  • Mempelajari bagaimana mengatur emosi yang intens.

  • Berlatih membingkai ulang emosi (reframing) yang menyebabkan kita merasa kesulitan.

Nah, #TemanTeduh! Itu dia sedikit pengetahuan mengenai emosi dan bagaimana cara mengelolanya. Teman-teman boleh loh menggunakan fitur mood tracker dan mencoba self-help di aplikasi Teduh agar dapat mengelola emosi dengan lebih baik. #TemanTeduh yang belum download aplikasinya, boleh download disini, ya!


Psychology Content Writer: Aviva Lutfiana

Sumber:

  1. Cherry, K. (2022). Emotions and Types of Emotional Responses: The Three Key Elements That Make Up Emotion. Retrieved from: https://www.verywellmind.com/what-are-emotions-2795178

  2. Cherry, K. (2022). The 6 Types of Basic Emotions and Their Effect on Human Behavior. Retrieved from: https://www.verywellmind.com/an-overview-of-the-types-of-emotions-4163976

  3. Raypole, C. Litner, J. (2020). How to Become the Boss of Your Emotions. Retrieved from: https://www.healthline.com/health/how-to-control-your-emotions

60 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page