top of page
  • Gambar penulisTeduh

Apa itu Quiet Quitting dan Gimana Mencegahnya?



Halo, #TemanTeduh! Kamu pernah mendengar istilah quiet quitting? Sebenarnya apa sih quiet quitting itu? Apa saja ciri-cirinya? Dan gimana ya cara mencegahnya? Nah, kita akan bahas sama-sama di artikel kali ini, ya!


Quiet quitting adalah istilah yang nge-trend belakangan ini (sejak pertengahan tahun 2022), terutama di media sosial TikTok. Menurut seorang peneliti dan dosen dari Universitas Salford, Jonathan Lord (2022), sebenarnya quiet quitting itu bukan hal baru loh di dunia kerja! Katanya, quiet quitting itu fenomena yang sudah lama terjadi di dunia industri, cuma istilahnya aja nih yang baru!

"Quiet quitting is a new name for an old method of industrial action."

– Jonathan Lord


Apa itu quiet quitting?

Quiet quitting adalah sebuah istilah yang mengacu pada tindakan seorang karyawan untuk melakukan persyaratan minimum (bare minimum) dari pekerjaannya sehingga ia tidak menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, atau antusiasme dalam melakukan pekerjaan. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance) yang lebih baik. Jadi, quiet quitting tidak berarti bahwa seseorang benar-benar berhenti dari pekerjaannya, tetapi hanya melakukan apa yang diharuskan saja dari pekerjaannya. Kondisi remote working atau hybrid diduga mempermudah seseorang untuk melakukan quiet quitting, karena karyawan tidak selalu bertemu secara langsung dengan atasan dan rekan kerjanya sehingga berkesempatan juga untuk memiliki waktu bagi kehidupan pribadinya.


Fenomena quiet quitting memang bukan hal baru, tetapi seiring dengan adanya peningkatan kesadaran kita pada kesehatan mental, kita memiliki lebih sadar akan batasan kita dalam pekerjaan. Jangan sampai beban kerja mempengaruhi kesehatan mental kita. Riset yang dilakukan sama Born This Way Foundation, menunjukkan bahwa ternyata yang sering mengalami quiet quitting ini adalah Gen Z dan Millenials. Kenapa ya? Karena 77% dari mereka lebih menyukai pekerjaan yang punya value mendukung kesehatan mental mereka dan mengutamakan work-life balance.


Berdasarkan survei dari resumebuilder.com terhadap 1000 orang di Amerika Serikat, 8 dari 10 orang quiet quitters sedang mengalami burnout. Awalnya mungkin rekan kerja memberikan toleransi dan empati bagi mereka agar mereka tidak memforsir diri dan mengambil lebih banyak waktu untuk mengelola kesehatan mentalnya. Namun, seiring waktu, tampaknya sekarang dunia kerja mulai jenuh nih dengan budaya quiet quitting ini!

Ketika seorang karyawan tidak perform atau berfungsi secara optimal dalam perannya, beban kerja tambahan yang seharusnya diemban sama karyawan ini jadinya dilimpahkan ke teman satu timnya. Lama kelamaan tentunya hal ini akan memengaruhi produktivitas dan keseimbangan di dalam tim. Sebenarnya sih enggak salah yaa teman-teman jika kita punya harapan dapat pekerjaan yang dapat mendukung work-life balance. Namun, jika kita berlebihan menjunjung value ini, hati-hati takutnya kita menjadi quiet quitters yang membatasi perkembangan diri kita dan menghambat produktivitas tim.


Bagaimana ciri-ciri quiet quitting?

Mengutip dari Galvin (2022), ada 6 ciri seseorang untuk dikatakan quiet quitting, yaitu:

  • Enggak terlibat dalam pekerjaan dalam waktu yang lama (kronis).

  • Performanya hanya mengacu pada standar minimum saja, berusaha bekerja seminimal mungkin.

  • Terisolasi dari anggota tim yang lain, enggak mau berkomunikasi.

  • Menolak adanya percakapan, aktivitas, atau tugas yang tidak dibutuhkan.

  • Hadir dalam meeting, tetapi tidak mau berbicara atau berbuat sesuatu.

  • Timnya melaporkan adanya peningkatan beban pekerjaan (workload) secara tiba-tiba.

Nah, coba kita pikirkan, ada enggak ya rekan kerja kita yang seperti ini? Atau jangan-jangan kita sendiri yang secara tidak sadar melakukan quiet quitting ini? Tunggu, jangan dulu nge-judge, ya! Yuk kita baca dulu artikel ini sampai akhir!


Bagaimana dampak quiet quitting?

Quiet quitting tentunya akan berpengaruh sama produktivitas tim ya. Quiet quitters dianggap cenderung mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kerja sama, karena ia melimpahkan beban pekerjaannya sama orang lain. Hal ini akhirnya menyebabkan gesekan dengan rekan kerja yang berdedikasi dalam kerja tim. Sikap ini bisa membuat suasana kerja tidak nyaman, seperti adanya sikap pasif-agresif, konflik dalam diam, atau bahkan konfrontasi langsung yang memicu perpecahan di antara tim.


Selain berdampak pada tim, dampak lain yang tidak disadari oleh quiet quitters adalah mereka membatasi diri sendiri untuk berkembang. Tidak perform-nya mereka adalah tanda bahwa mereka menolak kesempatan belajar yang dapat memperluas pengetahuan mereka. Hal ini tentunya sangat penting untuk pertumbuhan karier mereka secara jangka panjang. Pengalaman dalam melakukan pekerjaan dan menghadapi tantangan adalah kesempatan belajar yang sangat besar dan bermanfaat untuk perkembangan diri mereka sendiri, bukan hanya semata-mata bekerja untuk tim atau perusahaan.


Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah quiet quitting?

Dalam mengatasi quiet quitting, kita perlu berpikir dari dua sisi, yaitu sisi perusahaan (employer) dan sisi karyawan (employee). Dilansir dari katadata.co.id, berikut ini upaya yang dapat kita lakukan:


Bagi perusahaan:

  • Memberikan beban kerja (work load) sesuai dengan kapasitas karyawan, jangan sampai karyawan bekerja di luar kapasitas maksimalnya. Ketika hari libur, berikanlah kesempatan mereka untuk beristirahat dan memiliki waktu pribadi dengan keluarganya. Sesekali tidak mengapa jika karyawan bekerja ekstra, tetapi jangan lupa bahwa setiap waktu tambahan membutuhkan insentif yang sepadan. Selain itu, jangan pula dilakukan dalam waktu yang berkepanjangan, karena hal ini rentan menyebabkan burnout pada karyawan.

  • Memberikan kompensasi dengan adil, karena gaji adalah salah satu penyebab utama timbulnya quiet quitting. Jangan menjanjikan kompensasi yang tidak realistis hingga akhirnya tidak diberikan. Berikan kompensasi yang sesuai dengan hasil upaya karyawan dan kompetitif dengan harga pasar dan standar hidup saat ini. Selain kompensasi, apresiasi pada karyawan dalam bentuk pengakuan, tunjangan, dan fleksibilitas juga dapat dilakukan agar mereka merasa didukung oleh iklim yang positif di tempat kerjanya.

  • Memberikan waktu untuk mendengarkan karyawan. Berempati pada kekhawatiran yang dirasakan oleh karyawan sangatlah penting. Ketika karyawan merasa bahwa atasan memahami mereka dan memikirkan kepentingan mereka, maka karyawan akan memilih cara yang lebih sehat untuk mengatasi kendalanya dalam pekerjaan dan tidak memilih melakukan quiet quitting. Maka, buatlah pertemuan dan percakapan rutin dengan karyawan serta meningkatkan kepekaan pada apa yang dirasakan karyawan.

  • Menetapkan batasan kerja yang jelas. Memperjelas job description dan hal opsional yang dapat dilakukan (misalnya menjawab panggilan atau email setelah jam kerja, kecuali jika benar-benar mendesak). Hal lain yang dapat dilakukan adalah memperjelas work flow atau alur pengaduan karyawan dan memberikan reward kepada karyawan yang bersedia lembur, dengan mengizinkan mereka pulang lebih awal di hari lain.

Bagi karyawan:

  • Bekerja dengan efektif dan efisien. Jika merasa jenuh dan ingin sekali melakukan quiet quitting, maka solusi baik yang dapat diterapkan adalah bekerja secara efektif dan efisien. Memaksimalkan waktu dengan bekerja seefektif dan seefisien mungkin membuat karyawan memiliki waktu yang lebih banyak untuk beristirahat setelah bekerja.

  • Berolahraga dan melakukan meditasi. Melakukan relaksasi dan olahraga rutin dapat membantu mengurangi stress. Meditasi juga membantu pikiran agar lebih fokus sehingga lebih tenang dalam menerima kondisi tertentu.

  • Meningkatkan rasa kepemilikan (ownership) pada perusahaan. Jika karyawan memiliki visi yang searah dengan perusahan, maka pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan penghasilan. Namun, lebih dari itu, yaitu untuk mengaktualisasikan diri dan berkarya bagi kehidupan.

  • Menyampaikan kendala pada atasan. Bila karyawan telah melakukan beberapa solusi di atas, tetapi masih merasa jenuh dan kelelahan, ada baiknya untuk membicarakan faktor quiet quitting dengan atasan. Dengan menyampaikannya, karyawan mampu mengutarakan kondisi dan atasan memahami persoalan, sehingga akan menemukan solusi bersama.

  • Mengambil cuti. Jika sudah lelah dan jenuh, tidak ada salahnya untuk mengambil waktu beristirahat sejenak agar dapat lebih memahami diri sendiri.


Gimana nih, #TemanTeduh perasaannya setelah membaca artikel ini? Jika #TemanTeduh membutuhkan informasi lebih lanjut dan membutuhkan meditasi, yuk kita download aplikasi Teduh disini dan bisa akses fitur Self Help mengenai Work-life balance!


Psychology Content Writer: Aviva Lutfiana


Sumber:

  1. Lord, J. (2022). Quiet quitting is a new name for an old method of industrial action. Retrieved from: https://www.researchgate.net/publication/363415148_Quiet_quitting_is_a_new_name_for_an_old_method_of_industrial_action/citation/download

  2. Robinson, B. (2022). 6 Signs That A ‘Quiet Quitter’ Is Among Your Employees And What To Do About It. Retrieved from: https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2022/08/19/6-signs-that-a-quiet-quitter-is-among-your-employees-and-what-to-do-about-it/?sh=2b14b9c06619

  3. Resume Builder. (2022). 1 in 4 of workers are ‘quiet quitting,’ saying no to hustle culture. Retrieved from: https://www.resumebuilder.com/1-in-4-of-workers-quiet-quitting-saying-no-to-hustle-culture/#:~:text=Key%20findings%3A,this%20hasn't%20gone%20unnoticed

  4. Sisma, A. F. (2022). Menelaah Dampak Quiet Quitting dan Cara Mencegahnya. Retrieved from: https://katadata.co.id/agung/ekonopedia/635026e59f6d7/menelaah-dampak-quiet-quitting-dan-cara-mencegahnya



30 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page